blog stats

Aku Takut Kucing

Katakutanku Akan Kucing Semakin Menjadi-jadi

 


Kucing, entah mengapa ku berpikir mengapa masih ada orang yang mau memelihara mereka, mengelus-ngelus, bahkan sampai memandikannya. Jika itu aku, sudah pasti yang akan kulakukan adalah menjauh dan menjauh membuang yang namanya kucing dari kehidupan. Apalagi setelah kejadian dua trauma terbesarku akan kucing sebelumnya.

Setelah kejadian dua trauma terbesarku terhadap kucing tersebut, hidupku dimulai dengan berhati-hati dengan setiap kucing yang bisa ditemui dimanapun, dirumah, dijalan, hingga tempatku bermain. Itu semua kulakukan dari mulai bangun tidur, berangkat sekolah, bermain, mengaji, hingga waktunya tidur lagi. Bahkan karena phobiaku ini, kedua ayah dan ibuku mulai melarang setiap kucing yang ingin masuk ke rumah. Sepertinya mereka berdua sudah mulai sadar bahwa anaknya yang laki-laki ini mengalami phobia ketakutan terhadap kucing T.T

Semenjak kejadian tersebut rasanya kehidupanku seperti berubah bertahap-tahap menjadi tidak mengenakkan dan memilukan mulai dari usia anak-anak hingga remaja. Jika kalian bertanya mengapa, itu semuanya diakibatkan oleh ketakutanku akan kucing yang semakin menjadi-jadi. Ketakutanku tersebut membawa perubahan yang besar dalam hidupku. Mulai dari rasa malu yang semakin besar dalam diriku ini hingga tanda dan gejala phobia kucing yang semakin hari semakin parah.

Dulu tanda dan gejala phobia kucing pada diriku tidak separah yang sekarang, yaitu hanya ada perasaan geli, takut, serta keringat dingin setiap berdekatan dan bertatapan dengan kucing. Namun secara perlahan-lahan berubah menjadi menjadi lebih parah hingga menjadi ekstrem seiring berjalannya waktu.

Dimulai dengan reflek tubuh yang gemetaran setiap ada kucing, mendekat, keringat dingin yang selalu mengucur, detak jantung yang meningkat, hingga jeritan macam lihat film hantu. Pernah suatu hari ada ada kejadian seekor kucing masuk kerumah tanpa sepengatahuan, dan keadaanku waktu itu lagi asyik makan siang yang telah dimasakkan oleh Ibu.

Tanpa ada pemberitahuan macam apapun, tiba-tiba ada kucing yang mendekat dikakiku sambil ‘meow, meow, meow’. Sontak akupun terkejut membuat makanan diatas meja berserakan, tak sampai hanya disitu, aku naik meja makan sambil menjerit berteriak minta tolong ‘Bu, Ibu, Ibu’ tidak memperdulikan kekacauan yang telah kuperbuat.

Ibu tak lamapun akhirnya datang dari dapur melihatku dengan pandangan aneh diatas meja sambil berkata ‘kamu gimana to le, sama kucing aja takut…’ Ia kemudian membuang kucing keluar dan berusaha membersihkan kekacauan yang kuperbuat. Kemudian ia menghampiriku yang sudah tenang dan bagaimana nanti jadinya hidupku kalau kelak sudah besar sudah masih takut terhadap kucing.

Waktu terus berlalu hingga aku beranjak dewasa, kini aku telah menikah dan bersiap-siap untuk menanti kelahiran anak pertamaku bersama istri. Dan hingga saat ini pula phobia ketakutan terhadap kucing dalam diriku masih belum sembuh. Untunglah istriku orangnya pengertian, dia mengerti bahwa masalah ini adalah gangguan psikologis dan butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan phobia tersebut.

Tapi entah mengapa semakin dekatnya denan hari kelahiran anakku, semakin pula aku antusias akan phobia ketakutan kucing ini. Ini bukanlah tanpa sebab, karena dari cerita banyak teman serta setelah mencari-cari di internet ternyata terdapat informasi bahwa phobia dapat diturunkan secara keturunan dari orang tua kepada anaknya.

Penurunan phobia ini dapat diturunkan dengan dua cara. Yang pertama melalui faktor genetic, yiatu faktor biologis keturunan langsung dari penderita phobia. Sedangkan yang kedua melalui kedekatan tumbuh kembang anak dengan orang tua penderita phobia, kedekatan ini membuat anak dengan mudahnya meniru perilaku orang tua, termasuk phobia ketakutan terhadap sesuatu yang mereka derita. Setidaknya begitulah seperti yang kubaca dari http://id.wikipedia.org/.

Jeder, rasanya informasi itu seperti berita buruk bagiku, aku tentunya sebagai orang tua menginginkan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, nakalpun tidak apa-apa karena hal itu adalah hal yang wajar. Tapi bagaimana jadinya jika nantnya anakku sepertiku, menderita phobia dan hidup selalu dalam bayang-bayang ketakutan. Tidak, jangan sampai hal itu terjadi, pokoknya aku harus bisa menemukan solusi untuk phobia kucing yang kuderita ini.

prev Semuanya Bermula Dari Hal Itu
Ku Temukan Secercah Harapan Ku Temukan Secercah Harapan next