blog stats

Waspadai Trauma Pada Anak Akibat Salah Pola Asuh

Waspadai trauma pada anak akibat salah pola asuh,- Anak, sejatinya adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan dalam kehidupan ini. Untuk itu, sudah sepantasnya dengan hadirnya buah hati ditengah keluarga dan kehidupan kita, maka kita harus mensyukurinya dengan menjaga merawat dan mencintainya dengan sepenuh hati. Tidak semua pasangan yang telah menikah dengan mudah dikaruniai seorang anak dalam kehidupannya.

Tak sedikit dari beberapa pasangan harus rela menelan kenyataan pahit untuk menunda memiliki anak atau mungkin tidak akan bisa mendapatkan kehadiran seorang anak dan keturunan karena kondisi tertentu. Untuk itulah, bagi kita semua yang telah dipercayai Tuhan untuk bisa menjaga, merawat dan membesarkan seorang anak. Maka sudah sepantasnya kita menerima dan mencintai anak-anak kita dengan sepenuh hati. Membuat mereka merasa aman, nyaman dan merasa terlindungi adalah tanggung jawab setiap orangtua.

Disamping itu, mendidik dan membesarkan anak agar bisa menjadi seorang pribadi yang baik dan berbudi pekerti yang luhur adalah tugas dan kewajiban setiap orang tua, demi terciptanya generasi penerus bangsa yang gemilang dan beretika yang baik. Namun, kebanyakan dari orang tua tidak tahu cara bagaimana cara memperlakukan dan mendidik anak dengan baik dan benar karena menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Memang menjadi orang tua tidak ada sekolahnya tetapi sangat dibutuhkan ilmu menjadi orang tua yang baik.

Biasanya dalam menghadapi anak, para orang tua menggunakan 3 jurus ini jika anak bermasalah. 3 jurus itu antara lain

  1. Ancam. "Awas ya kalau kamu tidak mau pakai sandal, nanti sandalnya ibu buang". "kalau kamu nakal bukan anak ibu!". Ini adalah kata-kata umum yang sering kita dengar.
  2. Marah dengan Teriakan. "Dasar bodoh!! Nakal!! Pergi!!"
  3. Pukul. Langsung pukul tanpa penjelasan yang perlu diperjelas.

Apakah membesarkan anak dengan cara tersebut akan menghasilkan anak yang patuh, baik, dan berbakti pada orang tua? Menurut saya tidak, kemungkinan besar mendidik dan membesarkan anak dengan cara tersebut hanya akan membuat anak menjadi sebaliknya karena belajar dari cara orang tua memperlakukannya, dan yang paling parah dapat mengakibatkan anak menjadi trauma dari cara mendidik orang tua yang salah.

Mendidik anak dengan ancaman hanya akan membuat anak seperti ini akan belajar hidup meneror, teman bahkan kelak pasangan hidupnya. Karena dia belajar untuk memenuhi kebutuhannya adalah dengan cara mengancam, seperti orang tuanya ingin mendidiknya (karena ketidaktahuannya) dengan baik dan membentuk perilakunya dengan ancaman. Disamping itu anak juga akan belajar melawan yang biasanya bertumbuh sesuai usianya, jika masih kecil melawannya kecil, jika sudah besar maka perlawanan besar.

Ada dua akibat penting dari sering mengacam anak. Anak akan belajar berbohong karena ketakutan diancam dan anak akan jadi anak yang penakut, dan sampai besar pun akan membawa sikap-sikap ini. Dan percayalah, pada beberapa kasus, sampai besar pun anak-anak yang sering diancam tetap akan hidup dalam ancaman. Baik dari rekan kerja, bahkan pasangannya.

Sebenarnya ada alternatif lain selain memberikan ancaman kepada anak. Coba kita perhatikan beberapa diantaranya:

  1. Ajukan pilihan. “Rapikan kamarmu sekarang supaya waktu menontonmu lebih lama, atau rapikan nanti dan kamu tidak bisa menonton acara favoritmu sama sekali.”
  2. Beri batasan. “Sepuluh menit lagi ibu akan bereskan meja makannya, kalau kamu tidak makan sekarang, kamu bisa makan nanti malam saja.”
  3. Tetapkan aturan main: apa saja tugas atau kewajiban anak dan konsekuensinya jika ia tidak memenuhinya. Lakukan ini di awal sebelum ada pelanggaran, sehingga anak sudah tahu akibat yang akan ditanggungnya. Jadi, anda tidak lagi perlu mengancam, cukup mengingatkan saja!

Dampak dari berteriak kepada anak hanya akan membuat anak minder, takut berbuat salah, harga diri rendah, tertutup, bahkan menjadi pemarah. Bentakan bukan solusi, bentakan dan teriakan adalah bentuk ketidakmampuan orang tua dalam menghadapi perilaku anak. Jadi apa solusinya? Belajarlah mengendalikan perilaku anak.

Anak yang sering mendapatkan pukulan karena kemarahan orang tua atas sikap dan perilaku anak, maka anak akan belajar satu hal penting, yaitu jika saya marah maka pukul. Kenapa? Karena dia dibesarkan dan sering melihat orang tuanya yang marah lalu memukul. Dari situ dia belajar, jika marah maka saya akan memukul. Namun bagi anak yang tidak memiliki keberanian untuk melawan atau memang anak yang pendiam, dari kebiasaan orang tua tersebut akan menjadikan trauma baginya.

Ada sebagian orang tua masih menganggap bahwa pola pendidikan pada anak  dengan pola menghukum  dan memberi efek jera. Hal ini tidak sepenuhnya salah, apalagi jika pola menghukum juga disertai dengan pola pemberian  penghargaan  ketika anak tersebut mendapatkan prestasi. Yang menyebabkan salah adalah jika pola memberi hukuman diaplikasikan dalam memberi hukuman kekerasan fisik. Kalau hal ini dilakukan, maka tujuan menghukum agar anak dapat memperbaiki menjadi tidak terjadi, tetapi yang didapatkan adalah selain rasa sakit fisik juga rasa sakit psikis (dendam) anak pada orang tuanya.

Hukuman orang tua terhadap anak, seperti mengurung anak beberapa jam di kamar mandi, gudang atau sejenisnya tanpa lampu menyala terlebih malam hari (gelap gulita), akan memberikan trauma ketakutan tersendiri bagi sang anak. Dia akan mengalami ketakutan yang luar biasa nantinya saat berhadapan dengan gelap atau bahkan masuk kamar mandi sekalipun lampu menyala.

Trauma adalah respon secara emosional akibat sebuah kejadian, seperti kekerasan, bully, hukuman atau bencana alam. Reaksi jangka pendek yang biasa terjadi pada seorang yang mengalami trauma adalah shock dan penolakan. Sedangkan reaksi jangka panjang pada penderita trauma meliputi emosi yang tak terduga. Misalnya selalu teringat kejadian yang terjadi pada masa lalu, hubungan yang tegang, bahkan gejala-gejala fisik, seperti pusing dan mual.

Bagi beberapa orang, hal tersebut merupakan suatu hal yang normal. Namun bagi penderita trauma, hal tersebut sangat mengganggu dan membuat si penderita sulit menjalani hidupnya secara normal. Untuk memudahkan anak mengatasi trauma anak karena suatu kejadian, kita perlu memberinya rasa aman. Memeluk, memberi kehangatan dan meyakinkan anak bahwa semuanya baik-baik saja, merupakan cara-cara memberi rasa aman bagi anak.

Memberikan dukungan serta motivasi kepada anak sangatlah penting untuk memperbaiki mental anak yang mengalami trauma. Anda pun sebaiknya terus dapat menemani anak Anda selama masa penyembuhan. Salah satu caranya yaitu dengan meluangkan waktu dan terus mengajak anak Anda berkomunikasi dari hati ke hati. Saat anak Anda sedang mengalami trauma, disarankan kepada Anda untuk tidak memberikan komentar yang menyudutkan atau menyalahkan anak. Karena hal tersebut justru akan membuat trauma anak Anda semakin bertambah parah.

Memang bukan cara yang mudah untuk menghilangkan trauma yang Anda atau anak Anda alami. Namun, dengan bentuk perhatian, pola hidup yang baik serta dengan menggunakan CD Terapi Binaural Beats Traumatic Eliminating, Anda akan dibantu untuk mengatasi trauma yang selama ini Anda atau anak Anda alami dengan mudah dan cepat.

Dengan CD Terapi Binaural Beats Traumatic Eliminating yang telah dirancang khusus, akan membawa penderita ke tempat dan waktu di mana peristiwa menyedihkan terjadi. Mengatasi memori lama ini secara sadar dan akan membuat anak Anda untuk lebih memahami kejadian tersebut serta mulai melihatnya dengan cara yang tidak lagi mengancam.

Terapi Binaural Beats Traumatic Eliminating dapat membantu anak Anda memvisualisasikan diri menghadapi peristiwa, objek atau situasi yang penderita takuti tanpa mengalami rasa takut dan kecemasan apapun. Binaural Beats dapat membimbing penderita dalam menciptakan pikiran-pikiran baru dan tanggapan mengenai apa pun yang penderita takutkan sebelumnya.

Baca Juga :

5 Langkah Dahsyat Mengatasi Trauma Pada Anak

Dampak Buruk Pedhofilia Terhadap Anak

Waspadai Pedhofilia Disekitar Anda

Kumpulan Artikel Psikologi